Rabu, 21 November 2012

Sempat Emosi

Tadi, pulang dari perpus, di jalan samping Pak Ateng, jalan yang biasa Endah lewatin kalo pulang itu ada sedikit kemacetan. Kemacetan itu gara - gara ada 2 mobil yang mau lewat jalan itu. Mobil satu dari lajur yang sama dengan lajur Endah. Mobil satunya di lajur yang berlawanan. Nah, disitu Endah sempet emosi. ngapain coba mobil pake lewat jalan yang notabene nya jalan kecil itu. Hadeh...emang sensi sih sekarang Endah kalo liat mobil. Udah boros - borosin badan jalan, eh...pas diliat cuma satu/dua orang doang yang ada di dalam mobil. Super duper ngeselin. Gimana mau nggak macet kalo konteks nya rata - rata penduduk Indonesia kayak gitu??

Oya, Endah mau nanya deh, emang pekerjaan bersih - bersih kayak nyapu, nyuci, ngepel, dan sebagainya itu adalah pekerjaan yang rendah?terus emang kalo suatu pekerjaan yang rendah itu penanda seseorang yang mengerjakannya juga orang "randahan"?, tau kan maksud Endah?

Nah, itu juga yang buat Endah sedikit emosi melihat orang yang berpandangan seperti itu. Ada kakak angkatan Endah yang Endah nilai seperti itu. Menurut Endah orang kayak gitu itu menyepelekan suatu pekerjaan, dan pasti memandang remeh orang. Coba deh tanya ke temen deketnya tentang "orang" itu.

Sebagai pencerah aja, Endah inget suatu hari Endah pernah nonton acara di stasiun TV gitu. Acara nya menceritakan seorang aktivis, seusia ibu Endah. Beliau mengabdi pada lingkungan tempat pembuangan akhir. Beliau mengajar dan mendidik anak - anak disana. Beliau juga ikut tinggal dan bersosialisasi dengan sangat baik di lingkungan masyarakat daerah itu.

Beliau bercerita, kalau banyak orang yang lewat daerah itu pasti menutup lubang hidungnya. Berharap bau busuk yang ditimbulkan dari tumpukan sampah tidak terhirup oleh mereka. Banyak orang juga merasa jijik untuk sekedar melewati tempat itu. Beliau juga waktu pertama - tama memulai kegiatan pengabdiannya melakukan hal tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu beliau sadar, bahwa di tempat seperti itu aja masih ada rezeki yang dititipkan Allah. Allah masih mau menitipkan rezeki - Nya. Allah nggak merasa jijik, atau sebagainya. Itu berarti Allah nggak memandang dari tempat. Begitu juga terhadap makhluk - Nya. Allah nggak memandang status nya di masyarakat atau lingkungan sekitarnya, jabatan, kekayaan, dan sebagainya.

"Jadi, kenapa kita yang tidak menitipkan apa - apa, dan makhluk ciptaan - Nya merasa jijik terhadap hal itu dan tempat tersebut, sedangkan yang menciptakan kita yang MAHA segala - galanya tidak seperti itu, bahkan Dia tetap menitipkan rezeki - Nya.

"PUNYA HAK APA KITA BERPRILAKU SEPERTI ITU?"

Dalem banget menurut Endah . . . membekas dan tercerahkan.

Dari nonton acara itu, Endah kalo lewat tempat sampah besar atau semacam tempat pembuangan akhir belajar untuk nggak menutup hidung dan berprilaku biasa aja. Endah juga ngingetin temen Endah yang
jalan di samping Endah kalau,
"Masih ada rezeki yang Allah titipkan dalam tempat itu, jadi kita nggak berhak merasa jijik, dan sebagainya."
Kesimpulannya, nggak ada pekerjaan yang rendah, sekalipun itu menggali sampah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar