Senin, 28 Januari 2013
Perjalanan Panjang
Bulan purnama bersinar terang di luar, di langit malam ini
Endah masih belum mau memejamkan mata, masih mau berusaha untuk membuat proposal penelitian. Ide sudah di dapat, hanya saja belum tau bagaimana menuangkannya. Bapak - Ibu, sudah lelap dalam tidur. Tinggal Endah, ditemani suara TV dan ketikan di lepo yang menghalau kesunyian malam. Deadline proposal tanggal 1 Feb. besok. Entahlah, akan jadi atau tidak, Endah hanya berusaha semampu Endah. Tahap ini Endah masih mencari refrensi lainnya, melihat contoh proposal yang tembus tahun lalu. Ingin rasanya seperti mereka. Suatu saat nanti Endah pasti bisa. Amin.
Tadi pagi Endah sms dokter Endah. Endah bilang,"Dok, liburan kali ini Endah nggak kontrol lagi. Alhamdulillah nggak kumat, nggak ada luka lagi." "Alahmdulillah, ikut senang mendengarnya", begitu balasan dokternya. "Iya dok, terimakasih ya dok...", jawab Endah.
Alhamdulillah nggak ada luka lagi. Itu hasil menahan diri Endah dari makanan pemicu, kayak mpek - mpek, cakwe, kerupuk, semua makanan yang Endah suka, semua menjadi pemicu nya. Endah kurangi itu. Padahal mupeng banget. Mengurangi makanan pedes juga Endah lakuin, nggak berani makan makanan yang terlalu pedes lagi. Obat herbal pun rutin Endah minum. Alhamdulillah semua ada hasilnya.
Apalagi ya yang mau diceritain..mm..
Oya, ada yang belum Endah ceritain. Tentang perjalanan Endah bersama teman - teman Endah ke Pasar Senen. Pasar senen terkenal dengan penjualan pakaian - pakaian bekas, pakaian import. Biasa disebut Poncol deh kayaknya sama anak - anak gaul sini. Endah nggak beli apa - apa disana. Emang nggak niat beli, nggak tau, minat belanja Endah hari itu nggak ada. Niatnya hari itu cuma mau beli dan makan es krim di Ragusa. Janjiannya jam 10 kumpul di rumah Bellinda, tapi biasalah, realitanya berangkat pas adzan Sholat Jum'at. Kita, berempat, Endah, Bellinda, Arinda, sama Kiki berangkat dari rumah Bellinda naik taksi (gaya banget). Sampai di pasar itu langsung deh, mata mulai mencari - cari. Walaupun penjualan pakaian bekas, tapi tetep aja naluri perempuan nya keluar, naluri beli membeli.
Bellinda langsung memimpin perjalan kita di pasar itu. Dia langsung membawa kita ke suatu kios. Sepertinya dia sudah sering belanja ke pasar ini, sampai dia hapal betul jalan - jalan dan kios - kios yang menjual koleksi pakaian yang bagus menurutnya.
Waktu memasuki pasar itu Endah cukup tercengang melihat harga yang ditawarkan. Segala jenis pakaian diobral dengan harga 10000 untuk 3 potong pakaian jenis apa pun. Masyaallah..Sampai di kios, langsung deh, Bellinda langsung serius memilih, membolak - balik adukan pakaian - pakaian bekas itu dan mengecek pakaian itu masih layak pakai atau nggak. Perilaku Bellinda diikuti teman Endah lainnya. Endah yang emang nggak niat membeli apa - apa hanya melihat - lihat saja. Alhasil, di kios itu yang genap mendapat 3 pakaian itu Bellinda, sedangkan Arinda 1 pakaian, Kiki 2 pakaian, jadi mereka gabungan biar genap 3.
Karena teman Endah ada yang belum puas, target belum di dapat, kita mengelilingi pasar itu lagi. Kios demi kios kita lihat - lihat koleksinya. Terdengar berbagai penjual berusaha menarik perhatian para pembeli dengan mengeluarkan beberapa statement yang menurut kami lucu. Antara lain seperti ini statementnya:
"Tinggal dipilih...tinggal dipilih...abis dipilih ditinggal.."
"Ayo boleh..boleh..boleh ngutang.."
"Ayo..10000 tiga, 10000 tiga. abis tiga empat.."
Kita semua mendengar teriakan - teriakan abang - abang itu ketawa perlahan. Endah sama Kiki saling pandang, dan kemudian ketawa. Ahahhahahahah...
Sampai kita di suatu kios dengan penerangan lampu kebiruan, membuat suasana remang - remang, Arinda dan Kiki memilih baju yang digantung. Baju demi baju dicoba, Endah dan Bellinda yang memberi pendapat. Saat itu kocak banget dah. Abang penjualnya juga nyablak dan lucu. Kita jadi berasa akrab. Abangnya bilang"Ini (menunjuk ke Bellinda) yang jadi propokatornya, nah, dia (nunjuk ke Endah) yang ketawanya."Ahahahahha......emang, Endah mah paling nggak bisa nahan ketawa. Semua yang kenal Endah juga bilang gitu. Kalo ada yang ngelawak, pasti Endah yang jadi ketawa terus nya.
Cukup lama di kios itu. Arinda dapet 2 baju, Kiki satu baju. Dilanjut nyari tas nya Arinda. Dan Alhamdulillah dapet juga, cuma ada bagian yang copot di dalam tasnya (maklum lah). Walaupun begitu Arinda tetep naksir tasnya, dan dibelilah sama dia.
Selesai semuanya, Kiki bilang,"Ndah, kita jadi nih ke Ragusa nya?", semua memandang Endah. Endah melihat jam tangan, dan sudah menunjukkan jam 14.30. Endah jawab,"Nggak usah Ki, mau pulang jam berapa ntar, sekarang udah jam segini soalnya." Yaudah, akhirnya kita pergi makan aja di D'Cost Atrium. Di tempat itu, kita juga meluruskan kaki dan punggung sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Dinilai istirahat cukup, dan makanan sudah habis, kita pulang. Kita pulang naik metromini 03, otomatis kita nyebrang lagi, lewat jembatan lagi. --! cukup melelahkan. Udah naik di 03, tau nggak, belum ada setengah perjalanan, 03 nya mogok di tengah jalan. Suara klakson nyaring terdengar di telinga penumpang. Eh...disaat - saat itu malah ada yang ribut di luar (kita di dalam metro). Ributnya untungnya ribut kecil, hanya diantara 2 remaja cowok. Pemicunya, yang laki penumpang metro itu kan pada turun membantu mendorong metro, yang juga dibantu sama abang - abang, bapak - bapak, remaja - remaja lainnya. Nah, ada salah 1 bapak - bapak nanya,"Dorong sampe mana?". Ada yang jawab (1 remaja),"Sampe Rawamangun.". Eh...remaja yang deket bapak - bapak itu langsung emosi,"Eh..lo, mikir dong lo..orangtua tu." Ributlah mereka.
Kita juga melewati daerah banjir loh...banjir yang nggak begitu parah dan cakupan nggak begitu luas. Yang masih memungkinkan kendaraan lewat.
Saat naik metro pun banyak pengamen, dan yang minta - minta setengah memaksa (biasalah)...dari yang remaja, bapak - bapak, sampai anak - anak. Perjalanan yang panjang. Ada lagi, penumpang nenek - nenek bilang ke sopirnya,"Bang, terminal Senen ya bang." Penumpang lainnya heran. "Senen mah tadi nek, yang pertama kali nenek naik", jawab sopirnya.
Ibu - ibu berusaha menetralisir,"Nenek mau kemana?",
Neneknya jawab,"Mau pulang"
"Iya, pulangnya kemana nek?", tenang ibunya
"Di Rawamangun", jawab neneknya
"Bentar lagi ya nek, ini emang mau ke Rawamangun", terang ibunya ke nenek nya itu.
Selesai perkara. Ada lagi, pas neneknya bayar ongkos ke sopirnya, dan beberapa saat setelah transaksi itu,
"Bang, kembaliannya mana?",tanya neneknya ke sopirnya
"Lah, tadi udah nek. (memperhatikan neneknya sebentar).Itu nenek pegang kembaliannya (menunjuk ke tangan neneknya)", jawab sopirnya
"Oya", balas neneknya singkat.
Kita berempat maklum, mengingat itu nenek - nenek, wajarlah. Tapi berkali - kali kesan kita "Gubrak", melihat dan mendengar kejadian itu.
Sampai di terminal, kita lanjut naik BBG, terus turun di deket rumah Bellinda. Mampir dulu di rumah Bellinda sebentar untuk itung - itung dan bagi rata biaya yang dikeluarkan untuk transpor dan konsumsi. Selain itu juga mengecek belanjaan. Ternyata, satu kemeja yang dibeli Arinda di kios yang remang - remang itu lehernya udah kuning dan terlihat jelas. Tapi disana sama sekali nggak keliatan sama kita. Arinda juga nggak ngecek lebih teliti. "Pantes lampunya dibikin remang - remang", komentar kita semua. Kayaknya nggak dipake deh tu kemejanya. Bellinda beli kemeja yang lebih mirip piyama dibanding kemeja. Aahahhaha...koplak..koplak..
Selesai deh perjalanan kita...melelahkan, banyak pengalaman, kejadian lucu, dan pastinya seruu... :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar