Sudah delapan bulan lamanya kita tinggal di dunia yang berbeda. Pada awalnya aku tidak tahu apakah aku akan kuat untuk menjalaninya? Apakah aku akan terbiasa? Tetapi karena keyakinan kalau kamu pasti menemani hari – hari ku, aku menjadi tegar menghadapinya - hingga saat ini.
Kamu, Fari, adalah sosok yang
berhasil menghidupkan kembali rasa sayang dan perhatianku yang telah lama mati
karena kekecewaan yang begitu dalam. Terimakasih...Namun, menjalani hari – hari
berdua bersama mu, perlahan aku mempersiapkan sesuatu...
Dengan perkenalan yang singkat,
kita berani melangkah lebih jauh, menjalani hari – hari bersama. Memang tidak
ada ikatan dan status “pacaran” antara kita. Tapi apalah “pacaran” untuk kita
yang telah sama sama dewasa. Menjalin kasih menurut kita adalah untuk dibawa ke
jenjang selanjutnya yang resmi dan sah di hadapan agama dan negara, jadi
“pacaran” itu sudah lama dihapus dari kamus kehidupan kita, yang ada hanyalah
komitmen diantara kita.
Kamu, Fari, malam ini kamu datang
lagi di mimpi ku, mengobati rasa rindu yang telah memuncak, dan jawaban dari
do’a disetiap sujud ku.
Di dalam mimpiku kamu bertambah
tinggi Far, di luar dugaan ku. Selain itu, tentunya kamu tambah mempesona di
mata ku. Begitu nyaman aku berada di sampingmu. Di dalam mimpiku kamu keluar
dari ruang perawatanmu. “Dasar bandel”, ujar Ku. “Yaudah yuk jalan”, balas Fari.
Akhirnya kita jalan - jalan
berdua tanpa diketahui siapa pun dari pihak rumah sakit, baik perawat, dokter,
bahkan keluarga mu. Kita melewati waktu bersama, bersenang – senang ke taman
bermain. Kamu tersenyum, kamu tertawa, dan itu adalah angin segar yang
menyejukkan untuk ku, namun hati kecil ku berkata, “Aku sebenarnya khawatir
sama kamu. Tapi melihatmu tertawa dan tersenyum seperti ini apa boleh buat, udah
lama aku nggak melihat kamu begitu bahagia seperti ini”.
Kita bermain, bercanda, tertawa
bahagia bersama di taman bermain itu. Kamu membelikan minum untuk ku setelah
kita lelah bermain,”Nih, udah haus kan?”. Dia memang paling mengerti aku.
Selain untuk ku, kamu membeli minum untuk kamu sendiri, tapi kamu membeli kopi
dalam gelas berukuran besar. Dengan jelas aku ingat saat kamu ingin meminta
sedotan dari ku, bukannya aku memberi sedotan yang kamu pinta, tapi aku
langsung mengambil gelas kopi yang kamu pegang,”Kamu tuh nggak boleh minum
ini”, ujarku saat merebut gelas kopi kamu.
Kamu hanya melihatku, tidak
membantah ku. Kita lanjutkan perjalanan kita lagi, dan kamu mengenggam tangan
ku. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Nau, teman kampusku. Seketika Nau
langsung berkata,”O...jadi ini...”. Dengan bangga dan senyum manisku aku
menjawab,”Hu.um Nau”.
Jawaban yang aku lontarkan itu
penuh rasa bangga, percaya diri, dan beruntung karena memiliki kamu, berada di
samping kamu. Dan kamu tau, itu adalah untuk pertama kalinya aku merasakan
seperti itu.
Waktu tak terasa telah berlalu.
Sudah saatnya kamu kembali ke ruang perawatan. Sudah jelas terlihat raut lelah
di wajah mu, meskipun dengan sekuat tenaga kau berusaha menutupi itu. Akhirnya
kita berdua kembali ke rumah sakit. Karena kita pergi tanpa pamit, kamu pun
harus kembali dengan hati – hati tanpa diketahui siapa pun.
Dan aku..mengantarmu sampai
tempat perawatan mu...saat itu juga lah aku terbangun, dan tersadar kalau itu
adalah mimpi. Tidak mungkin kita bertemu di dunia yang sebenarnya, di dunia ku.
Kita sudah beda dunia..
Sudah delapan bulan yang lalu
kamu menghadap Yang Kuasa. ”Allah lebih meyayangimu Far”, kata ku untuk diriku
sendiri. Hal itu jugalah yang aku persiapkan di awal pertemuan kita.
Mempersiapkan diri untuk kehilangan mu cepat atau lambat karena penyakit yang
kamu derita, leukemia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar