tidak ada orang yang terbiasa dengan sebuah kata "perpisahan"...
baru saja aku duduk dan menyalakan leptop hendak menyelesaikan pekerjaan ku, sudah kembali aku matikan leptop ku itu ketika mendapat sebuah kabar di grup chat jejaring sosial. langsung aku bergegas ketika membaca kabar itu. langkah ku cepat, namun tatapan ku kosong..dengan segera aku menuju lantai 1 perpustakaan menggunakan lift. ketika pintu lift terbuka, aku langsung melangkah masuk. lalu kutekan tombol untuk menutup pintu lift. ku pandang pintu lift itu sampai menutup, terasa lama dan mengerikan untuk ku saat itu, seolah akan membawa ku menuju ke suatu dunia lain ketika pintu lift terbuka nantinya.
setibanya aku di lantai 1 perpustakaan, aku langsung menuju keluar, ke parkiran perpustakaan dimana motorku di parkir. beruntung dengan segera kudapati motorku di ramainya parkiran perpus siang itu. ku lajukan motorku hingga sampai di rs tempat ryan dirawat. kembali kakiku melangkah hingga sampai di depan gedung "kedokteran forensik". "aku kembali kesini lagi setelah beberapa bulan yang lalu ketika arif dan deka pergi", ujar ku dalam hati.
namun, belum ada siapa siapa disana, hanya pak satpam yang kudapati. aku duduk di seberang gedung, namun pandangan ku hanya tertuju ke gedung itu, sesekali ku lihat cellphone karena sedang berkomunikasi dengan mbak winda dan mba dinta. lama ku tidak mendapat balasan kabar karena kendala sinyal, aku berfikir untuk menyusul nya ke ruang perawatan tempat almarhum arif dulu.
belum sempat kakiku melangkah kesana, balasan dari mba winda datang. ternyata ryan di rawat di ruang yang berbeda dengan almarhum arif dulu, tapi untungnya aku tahu dimana ruang perawatan itu dengan informasi yang diberikan mba winda. aku bangkit, dan kulangkahkan kakiku lagi. ruang perawatan yang mengharuskan kondisi steril membuat di depan ruang itu dijaga satpam. hal itu menandakan tidak sembarangan orang boleh untuk keluar - masuk. hal itu pun yang juga membuatku ragu.
beruntungnya saat itu pak satpam tidak ada di tempat. langsung saja aku mencoba untuk masuk. endah masuk ruang itu, dan belum sampai di lantai 2 tempat ryan terbaring, aku sudah menemui mba winda. ya, mba winda menyusulku. memastikan tidak ada kendala yang berarti untuk ku bisa masuk. aku langsung disodorkan baju pengunjung oleh mba winda. lalu kami naik ke lantai dua, dan masuk ke kamar ryan. "ini ma, mba endah", ujar mba winda ke ibu ryan. aku melihat ibu ryan duduk di lantai, dan ryan terbaring di kasur rumah sakit. ryan udah ditutup dengan kain penutup.
aku melihat ibu ryan duduk lemas di lantai. aku cium tangan ibu ryan. aku genggam tangan ibu ryan, dan perlahan aku usapkan jariku ke tangan ibu ryan yang aku genggam, mencoba untuk menenangkan ibu ryan. aku pandang ibu ryan. dan itu..berlangsung lama. genggaman tangan ku nggak ku lepas. aku mencoba untuk menenangkan diri. mencoba untuk nggak nangis. "endah.endah.endah nggak boleh nangis", ujar ku dalam hati, dan itu terus aku ucapkan. kepalaku sesekali menggeleng, meyakinkan dan menguatkan ku untuk tidak menangis.
ketika mataku mulai berlinang, aku mencoba kuatkan kembali diriku. tapi itu sia - sia. setelah nggak kuat lagi untuk menahan, aku langsung memeluk ibu ryan dengan erat. dengan erat...air mataku pun mengalir tidak terkontrol. suaraku sesenggukan, dan berucap "ibu...ibu.." di telinga ibu ryan. "maafin ryan ya mba, sering jailin mba, sering buat mba kesel", ucap ibu ryan di telinga ku.
lagi - lagi aku nggak kekontrol di saat seperti itu. "maafin mba ryan, mba nggak kuat menahan. maafin ryan, mba nangis di samping ryan". mba winda kembali menenangkan ku. mengusap lembut tangan yang lembab karena keringat, kepala, punggung, mencoba menenangkan ku. cukup lama aku memeluk ibu ryan. cukup lama...sampai aku dapat mengendalikan diriku kembali.
aku...belum sepenuhnya tenang. aku usap air mataku yang mengalir deras, aku pandang ibu ryan. dan mba winda mengangkatku berdiri untuk melihat ryan. belum sempat ku lihat ryan, diriku kembali tidak terkontrol, aku peluk mba winda. aku kembali duduk. masih belum dapat aku kontrol sepenuhnya, aku kembali nangis. aku peluk mba dinta. mba dinta menenangkan ku. menyuruhku untuk minum sedikit - sedikit.
aku terus coba menenangkan diriku. aku tarik napas dalam dalam...itu terus aku lakukan. saat aku merasa lebih tenang, aku melihat ryan. mba dinta membimbingku. mba dinta membukakan kain penutupnya. aku sentuh ryan. aku pegang kakinya. masih terasa hangat. ketika kain penutup ryan telah terbuka, aku pandang ryan untuk yang terakhir kali, dan akan aku simpan dalam memoriku.
setelah melihat ryan, kami ke ruang kepompong, tempat anak - anak bermain. berada disana membuatku lebih tenang, sebenarnya sengaja aku buat tenang, karena sedang ada anak - anak bermain di dalam. tidak ingin melihat mereka bersedih..
aku tidak banyak berbicara saat itu. aku hanya mampu tersenyum melihat adek adek. apalagi saat melihat adek yang juga muridnya mba dinta. adek itu mau tindakan, namun masih menunggu, jadilah tempat tidur dorongnya berhenti di depan kepompong. kita keluar, melihat adek itu. para pengajar sungguh interaktif berkomunikasi dengan adeknya. mereka main tebak tebakan. adeknya mencoba menebak siapa yang ada di sekeliling dia saat itu, terutama para pengajar.
adeknya meraba tangan mencoba mengenali dan menebak. selain meraba tangan, adeknya pun mengenali lewat suara. sepintas aku melihat adeknya baik - baik saja, dan memang sengaja mereka beramin tebak - tebak an. tapi..setelah aku perhatikan dengan saksama, ternyata memang adeknya ndak bisa melihat. "Ya Allah...apalagi yang hendak Engkau tunjukkan kepadaku?", sontak dalam hatiku berkata demikian setelah menyadari kondisi adek tersebut yang sebenarnya.
aku....entah harus bagaimana..namun aku terus tersenyum lebar melihat mereka bermain tebak tebak an. udah saatnya adek nya tindakan, dan masuk ruang tindakan. saat itu pula ryan siap - siap untuk dibawa ke bawah, ke ruang forensik untuk menunggu ambulans. kita terus mengiringi ryan sampai ambulans ryan datang dan mengantarkan ryan ke daerah asalnya, kebumen, untuk dimakamkan.
aku..masih ingat dengan jelas ketika kamu, ryan, susah banget untuk disuruh tidur saat kita bermain bersama, beberapa minggu yang lalu. dan mungkin itu tanda yang mau kamu tunjukkan ke aku kalau kamu akan tidur selamanya dalam waktu singkat ini. aku...masih inget dengan jelas logat ngapak mu saat berbicara. aku...masih inget dengan jelas ryan saat kamu bilang kalau aku mirip ceweknya boboho, melihat wajahku yang bunder. aku...masih inget dengan jelas ryan, saat kamu memanggilku mba endang, sama seperti almarhum deka lakukan. aku...masih inget ryan, usaha kamu ketika kamu mengikatku agar aku nggak bisa pulang. aku...masih ingat ryan, hari - hari saat kita bermain bersama...maaf ryan kalo mba menangis untuk alasan yang sama..
Selamat jalan ryan...selamat bergabung kembali dengan arif, deka, defri, viona, bermain bersama. kalian tunggu mba ya disana...disana kita bermain lagi ^^ love you all from the deep of my heart :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar