Orang lain selalu berpikir negatif tentang kota ini. Kota dengan
tingkat kriminal, kepadatan penduduk, pencemaran, polusi, kemacetan, sampai
taraf hidup yang tinggi. Sampai – sampai berita di media cetak maupun
elektronik mayoritas berisi hal – hal negative
tentang kota itu, hampir tidak ada yang bisa dipandang positif. Tidak hanya
berita yang di media tersebut yang negative, opini orang lain yang bertempat
tinggal diluar kota tersebut tidak kalah banyaknya opini yang negative. Opini
negative tersebut tidak hanya untuk kotanya saja, namun penduduk yang berasal
dari kota itu pun terkena dampak opini negative tersebut. Cukup membuat telinga
panas mendengarnya.
Ya, kota itu Kota Jakarta namanya, dan Aku terlahir di kota dengan
sejuta opini negative tersebut. Sekarang aku merantau, keluar kota. Dan ketika
ku kembali, benar saja, telah terjadi pembangunan shelter busway yang besarnya
cukup menghabiskan badan jalan. Membuat jalan itu menjadi dua kali lebih macet
dari biasanya. Ketika Aku pulang sekolah dulu dengan angkot dan melewati jalan
itu, pasti sampai tertidur dalam angkot,
saking lamanya berhenti karena macet. Mungkin untuk sekarang ini tidurku bisa –
bisa dua kali lebih nyenyak. Sungguh pemandangan yang sangat berbeda ketika Aku
berangkat ke kota rantauan. Dan berita yang disiarkan pun sedang marak kasus
pemerkosaan di angkot, bajaj, bahkan taksi sekalipun, serta tindakan kriminal
lainnya yang semakin nekat. Aku tahu, berita tersebut berniat baik, agar kita
meningkatkan kewaspadaan. Namun menurutku, hal itu sungguh mengerikan. Ungkapan
yang bilang,”Lebih baik tidak tahu, dibandingkan tahu namun menyakitkan.”
Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk situasi ini.
Hal tersebut membuat Aku takut untuk melangkah keluar, untuk
ngebolang. Dan Ibuku
semakin panjang untuk memberikan wejangan sebelum kakiku melangkah keluar.
Kalimat yang keluar dari mulutku hanya “Ya Bu”, yang diulang berkali – kali. :D
“Pantas saja”, gumamku dalam hati. Tidak heran kalau orang – orang
diluar sana banyak yang berpikir negatif tentang kota ini. Aku pun tidak meyangkalnya,
dan pada kenyataannya seperti itu. Yang tidak bisa aku terima opini mereka
tentang penduduk Jakarta yang terbiasa hidup mewah, manja, dan sebagainya. Aku
tidak terima itu, karena Aku tidak seperti itu. Dan Aku yakin tidak semuanya
seperti itu. Aku terlahir dikeluarga sederhana, dan terbiasa melakukan
pekerjaan rumah (bukan PR loh ya), serta terbiasa untuk berusaha terlebih
dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Oya, Aku pun tidak tinggal
di kompleks perumahan mewah. Rumahku hanyalah dalam sebuah komplek, masuk dalam
sebuah gang tertutup yang gelap, terletak dua rumah dari pojok gang, dan
belakang rumah sudah mengalir kali berwarna hitam legam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar