Rabu, 28 Agustus 2013

Ke Kota Itu Aku Kembali #1



Orang lain selalu berpikir negatif tentang kota ini. Kota dengan tingkat kriminal, kepadatan penduduk, pencemaran, polusi, kemacetan, sampai taraf hidup yang tinggi. Sampai – sampai berita di media cetak maupun elektronik mayoritas berisi hal – hal  negative tentang kota itu, hampir tidak ada yang bisa dipandang positif. Tidak hanya berita yang di media tersebut yang negative, opini orang lain yang bertempat tinggal diluar kota tersebut tidak kalah banyaknya opini yang negative. Opini negative tersebut tidak hanya untuk kotanya saja, namun penduduk yang berasal dari kota itu pun terkena dampak opini negative tersebut. Cukup membuat telinga panas mendengarnya.
Ya, kota itu Kota Jakarta namanya, dan Aku terlahir di kota dengan sejuta opini negative tersebut. Sekarang aku merantau, keluar kota. Dan ketika ku kembali, benar saja, telah terjadi pembangunan shelter busway yang besarnya cukup menghabiskan badan jalan. Membuat jalan itu menjadi dua kali lebih macet dari biasanya. Ketika Aku pulang sekolah dulu dengan angkot dan melewati jalan itu,  pasti sampai tertidur dalam angkot, saking lamanya berhenti karena macet. Mungkin untuk sekarang ini tidurku bisa – bisa dua kali lebih nyenyak. Sungguh pemandangan yang sangat berbeda ketika Aku berangkat ke kota rantauan. Dan berita yang disiarkan pun sedang marak kasus pemerkosaan di angkot, bajaj, bahkan taksi sekalipun, serta tindakan kriminal lainnya yang semakin nekat. Aku tahu, berita tersebut berniat baik, agar kita meningkatkan kewaspadaan. Namun menurutku, hal itu sungguh mengerikan. Ungkapan yang bilang,”Lebih baik tidak tahu, dibandingkan tahu namun menyakitkan.” Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk situasi ini.
Hal tersebut membuat Aku takut untuk melangkah keluar, untuk ngebolang.  Dan Ibuku semakin panjang untuk memberikan wejangan sebelum kakiku melangkah keluar. Kalimat yang keluar dari mulutku hanya “Ya Bu”, yang diulang berkali – kali. :D
“Pantas saja”, gumamku dalam hati. Tidak heran kalau orang – orang diluar sana banyak yang berpikir negatif tentang kota ini. Aku pun tidak meyangkalnya, dan pada kenyataannya seperti itu. Yang tidak bisa aku terima opini mereka tentang penduduk Jakarta yang terbiasa hidup mewah, manja, dan sebagainya. Aku tidak terima itu, karena Aku tidak seperti itu. Dan Aku yakin tidak semuanya seperti itu. Aku terlahir dikeluarga sederhana, dan terbiasa melakukan pekerjaan rumah (bukan PR loh ya), serta terbiasa untuk berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Oya, Aku pun tidak tinggal di kompleks perumahan mewah. Rumahku hanyalah dalam sebuah komplek, masuk dalam sebuah gang tertutup yang gelap, terletak dua rumah dari pojok gang, dan belakang rumah sudah mengalir kali berwarna hitam legam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar