Rabu, 28 Agustus 2013

Ke Kota Itu Aku Kembali #2



Memang tidak ada habisnya untuk menceritakan betapa buruknya kota ini. Herannya, setiap tahun tetap ada pendatang baru. Seperti itulah kotaku, kota dimana aku dilahirkan, dan menjadi penduduk kota tersebut sejak aku lahir. Sempat Aku menyesalkan menjadi penduduk kota itu. Namun, setelah ku merantau ke kota lain, dan ketika ku kembali, aku merasakan rindu yang sangat luar biasa. Aku rindu kota itu. Rindu dengan segala keadaannya. Rindu dimana aku masih menghabiskan masa – masa kecilku.
Langkah pertama setelah sekian lama aku merantau, Aku kembali menjejakkan di tanah kelahiranku ini. Aku menghabiskan liburan ku di kota kelahiranku. Sekejap aku merasakan kalau Aku tak peduli lagi dengan pandangan orang terhadap kota ini, terhadap orang – orang di dalamnya. Aku tidak peduli. Benar – benar tidak peduli. Sekali lagi, Aku rindu.
Mungkin ini yang akan dirasakan oleh para perantau ke negeri orang, yang tanpa sadar akan timbul rasa “Cinta Tanah Airnya”. Ya, Aku yakin itu. Bagaimana pun keadaannya, setiap orang akan merindukan tempat dimana dia berasal. Kepangkuan – Nya mungkin untuk rasa rindu selanjutnya, ke taraf berikutnya, yang lebih tinggi lagi derajatnya.
Di liburanku, aku lalui terutama dengan kedua orangrtua, teman – teman, sahabat, tetangga kiri – kanan pun turut mengisi liburan ku. Dengan jumlah penduduk yang tinggi, membuat kota ini padat, tidak pernah kulihat kota lain sepadat kota kelahiran ku ini. Membuat rumah – rumah penduduknya tidak ada lagi lahan untuk halaman. Depan, belakang, kiri, dan kanan nya sudah berjumpa dengan tembok dari rumah tetangga, atau pun kalau tidak, langsung berjumpa dengan aspal hitam. Tidak kutemukan hal tersebut di kota lain.
Keadaan tersebut membuat kita terus berinteraksi dengan yang lain, dengan tetangga, itu yang kumaksud. Ketika keluar rumah, disapa, bahakan ditanya hendak kemana. Ya walaupun dengan gaya santai, cuek, dan tidak se-sopan dimana kota tujuan rantauan ku ini. Itulah seninya..tidak teralu banyak basa basi. Mayoritas ketika penduduk kota kelahiranku merantau ke luar kota, pasti bingung bagaimana caranya bersikap sopan, perhatian, dan basa – basi.
Kota ini mempunyai dua sisi, itu baru satu sisi yang aku ceritakan. Sungguh berbeda dengan sisi lainnya, terutama di lingkungan perumahan mewah. Di sisi itu jarang sekali terjadi tegur sapa, bahkan saling mengenal antar tetangga kiri – kanan nya pun tidak. Ya..begitulah kota kelahiranku. Memiliki dua sisi yang kontras berbeda. Beruntungnya Aku dilahirkan di lingkungan yang masih menawarkan kehangatan, walaupun di rumah yang tergolong terpencil dan nyelip itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar