Sampai tibalah saat kenaikan kelas. Ketika selesai upacara, langsung diadakan pembagian kelas. Kali ini pembagian kelas cukup berbeda. Pembagian kelas menurut peringkat. Pertama, namaku dipanggil, dan langsung memisahkan dari barisan pertama, lalu membuat barisan baru. Jadilah aku baris paling depan. Disebutkan nama kedua. Nama dia disebut sebagai yang kedua. Aku tidak kaget dan heran lagi. Kita selalu bersaing memperebutkan yang pertama. Dia baris dibelakangku, ketika berjalan menuju barisan, dia menatapku, dan tersenyum.
Nama demi nama disebutkan satu
persatu. Sampai nama terakhir disebutkan, aku baru tersadar,”Dia satu baris
sama aku, dibelakangku lagi, berarti, dia satu kelas dong sama aku, Ya
Tuhan..”, gumamku dalam hati. Kemudian kita diizinkan untuk menuju ke kelas
masing – masing.
“Cie yang juara pertama”,suara
yang terdengar dari belakang, tepat ditelingaku. Dengan refleks, aku langsung
menengok ke belakang, dan ternyata, dia.”Deg,deg,deg, suara jantungku terdengar
jelas. Aku terdiam. Tidak seperti biasanya aku seperti ini. Ada yang aneh, ada
yang berbeda. “Kayaknya dia udah biasa deh ngomong kayak gitu ke aku, tapi
kenapa sekarang rasanya berbeda ya?”, pertanyaanku saat itu.
Sudahlah. Pertanyaan tersebut
kuabaikan. Sekarang saat yang ditunggu – tunggu untuk anak sekolah usiaku saat
itu. Rebut – rebutan tempat duduk. Dan beruntungnya, teman – teman dekatku satu
kelas dengan ku. Sayangnya, kita duduk terpisah, hanya satu teman baikku yang
sebangku dengan ku.
Kita telah memilih tempat duduk
nya masing – masing. Ada yang senang, ada yang sedih, karena tidak mendapat
posisi tempat duduk yang diinginkan. Aku melihat sekitar. Terutama di depan –
dan belakangku. Dua bangku depan ku diisi oleh dua teman perempuan ku. Dua
bangku belakang, diisi dengan dua teman cowok ku. Aku mengenal keduanya. Satu Odan
namanya, dan satunya lagi.....ternyata dia. Ya Tuhan.....
Pertanyaan tadi kembali terlintas
dalam pikiran ku. “Kenapa semuanya kini terasa berbeda?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar