Perasaanku itu tersamar seiring
dengan masuknya wali kelas. Kemudian seperti biasa pemilihan pengurus kelas, kebijakan,
dan jadwal piket kelas. Semua berjalan dengan lancar. Dan seperti biasa hari
pertama sekolah kita dipulangkan lebih cepat dari biasanya. “Asiiikk....Yes!”,
semua seisi kelas berteriak seperti itu.
Jadwal piket ku hari Selasa. Hari
kedua setelah weekend, masih terasa malasnya untuk berangkat pagi. Apalagi
jadwal piket mulai berjalan dari minggu pertama sekolah.
Keesokan harinya, aku mulai
berangkat pagi – pagi sekali untuk menjalankan kewajibanku melaksanakan piket
hari itu. Aku jalan ke kelas dengan tergontai, “Ya Tuhan.....aku orang kedua
setelah penjaga sekolah yang berada di tempat ini”, ucapku perlahan. Ruang kelas
dibuka oleh penjaga sekolah, dan mulailah aku untuk beraksi. Sebuah sapu ijuk
telah ada dalam genggam ku. Langsung saja aku beraksi, mengusir rasa dingin pagi
itu.
Pertama aku mulai menyapu lantai
dari baris belakang. Ketika baru kumulai, ada seorang teman ku yang datang,
terdengar langkah kakinya. Aku menoleh ke belakang. Lagi – lagi dia selalu
muncul di belakangku. Ya, itu dirinya. Menjadi orang kedua yang datang di kelas
itu setelah aku. Dia menyapaku, dan kusapa balik dia.
Kemudian dia menaruh tas di
tempat duduknya, tepat di belakangku lagi. Lalu dia keluar kelas. Tidak lama,
dia balik lagi ke kelas, memberiku sesuatu. Apa yang dia beri? Sebuah permen
yupi. Itu permen pertama yang aku terima dari dia. Dia tidak hanya memberiku sebuah
permen yang rasanya manis dan empuk, tapi juga berbentuk hati berwarna pink,
dengan taburan gula di atasnya.
Sungguh manis...aku langsung memakan permen itu di depan dia. Dia terlihat senang. Aku juga senang :D. Setiap hari Selasa pagi, kejadian itu selalu terulang. Dia selalu jadi orang kedua yang datang setelah aku. Selalu seperti itu.
Ketika kuingat – ingat, dia tidak
memberiku sebuah permen manis itu setiap hari Selasa saja, namun setiap dia ada
kesempatan, dia memberiku permen manis dan empuk itu. “Sungguh manis...”,ucapku
lembut lagi tiap dia memberiku permen itu. “Nggak. Nggak boleh kayak gini. Aku
nggak boleh terhayut oleh kebaikannya”, ujarku kemudian.
Aku masih menyangkal perasaan ku
yang aneh itu tiap bertatap muka dengan dia. Dia selalu memperhatikan ku, tiap
tingkah laku ku. Dia selalu duduk di belakangku. Dia selalu tersenyum dan
berlaku baik terhadapku. Tetap saja aku masih belum bisa menerima perasaan ku
saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar