Hari demi hari berlalu. Aku mulai
terbiasa dengan sikap dia terhadapku, namun aku masih saja belum terbiasa
dengan perasaan ku ke dia. Aku masih belum bisa menerima dan Aku nggak mau
mengakui perasaan ku itu.
Lucunya, Aku tetap saja
memperhatikan segala tindak tanduk dia. Ketika dia bermain bola, ketika jam
istirahat, saat pelajaran di kelas, ketika dia makan, ketika jam olahraga,
upacara, pramuka. Setiap ada waktu bersama dia, Aku selalu memperhatikan dia.
Suatu tindakan yang konyol.
Sampai suatu waktu aku menemukan
yang istimewa dalam dirinya. Ketika pelajaran Agama Islam, semua anak laki –
laki disuruh Adzan satu persatu di depan kelas untuk kemudian dilatih dan
dilombakan antar sekolah. Ketika giliran dia Adzan di depan kelas, aku terpana,
sungguh indah suaranya. Ternyata, memang dia sering latihan dan sering ikut lomba
Adzan, dan membaca Al – Qur’an (Murotal istilahnya). Informasi tersebut tak
sengaja Aku dengar ketika teman – teman ku membicarakan dirinya. Dia pun selalu
mendapatkan juara dalam perlombaan seperti itu.
Dari kejadian itu, Aku mulai melemah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar