Aku mulai mengakui perlahan lahan perasaan ku ke dia,namun tetap saja dalam diam. Aku tidak menceritakan ini ke siapa pun. Mungkin hanya Aku dan Tuhan yang tahu. Aku semakin sering memperhatikan dia, senang dan berdebar ketika dia dekat dengan ku, dan satu hal lagi yang aneh dan pertama kali aku rasakan saat itu, yaitu Aku merasa marah dan tidak suka ketika dia dekat dengan yang lain.
Aku semakin sering berinteraksi
dengan dia, didukung dia duduk di belakang ku. Kita jadi sering bercanda ketika
jam pelajaran kosong. Salah satunya kita bermain besar – besaran ukuran tangan.
Kita menempelkan tangan satu tangan kita dengan satu tangan temen kita itu.
Pertama aku tempelkan tangan ku ke Utpi (teman sebangku ku), kemudian Odan
(temen sebangku nya), dan terakhir aku tempelkan tangan ku dengan tangan dia.
Ketika tangan kita menyatu, refleks aku pun melihat dia, dan dia pun melihatku.
Ternyata tidak hanya tangan kita yang menyatu, mata kita pun saling bertatapan.
Hatiku berdesir hebat,
berbeda
ketika kutempelkan tangan ku ke Odan. Aku tidak mampu berkata – kata saat itu.
Aku diam dan tetap ku tatap mata dia. Sampai tiba – tiba, dia menggenggam
tanganku. Itu membuyarkan diamku, namun masih tetap tidak bertindak apa -apa.
Teman sebangku ku dan Odan pun kaget, dan mereka hanya diam melihat kita
berdua, yang masih juga bertatapan. Selang berapa detik dari kejadian itu,
kesadaran ku kembali, dan dengan segera kulepas tangan ku dari genggaman dia,
dan langsung menghadap depan. Aku tidak berani menoleh lagi ke dia saat itu.
Maluuuu....rasanya... “Ya Tuhan”, ujarku dalam hati.
Aku tidak membayangkan wajahku saat itu, pasti memerah karena malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar