Komposisi masyarakat Desa Yenbeser dan pendidikan
Warga di Desa tersebut di dominasi oleh
anak-anak, dan yang minoritas adalah remaja usia SMP – SMA. Mengapa? Karena
remaja usia SMP – SMA di desa tersebut sudah merantau ke pulau seberang guna
melanjutkan pendidikannya, yaitu Waisai mengingat di Desa tersebut hanya ada
satu SD, itu pun status masih Yayasan, dan satu SMP Negeri yang masih dalam
tahap proses pembangunan. Tidak semua remaja usia SMP – SMA melanjutkan
pendidikan di pulau seberang namun masih ada yang tinggal di desa karena
berbagai sebab. Mereka tidak lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi
disebabkan kesadaran mereka terhadap pendidikan masih rendah, tidak ada biaya, lebih
memilih membantu orangtua untuk mencari ikan, dan memenuhi kebutuhan
keluarganya.
Sedikit bercerita mengenai pendidikan warga
desa Yenbeser, hampir semua muridnya pernah merasakan tinggal kelas. Bahkan ada
yang berusia 17 tahun namun masih kelas 6 SD dan pada akhirnya siswa tersebut
tidak melanjutkan sekolahnya lagi dan memilih untuk bekerja, membantu kebutuhan
keluarganya. Lalu siswa/siswi kelas 3 masih ada yang belum lancar baca, tulis,
dan hitung. Tidak mudah untuk mengajari mereka calistung. Konsentrasi mereka
mudah sekali terpecah. Mungkin hal itu yang menyebabkan sistem pendidikan
disana masih “primitif” istilahnya, masih menggunakan kekerasan dan hukuman
yang tegas apabila melakukan sedikit saja kesalahan.
Mengenai gedung sekolahnya, bayangkan, satu
ruang yang umumnya digunakan untuk satu kelas, di SD Yenbeser digunakan untuk
dua kelas. Kelas 1 – 2, kelas 3 – 4, dan kelas 5 – 6. Atapnya pun bolong –
bolong, kursi dan meja harus mereka gunakan bersama dengan “mpet – mpet-an”
papan tulis yang masih kapur dan sudah tidak hitam lagi sehingga tulisan sulit
untuk dibaca. Belum lagi kapur tulis yang digunakan masih terbatas, dan
penghapus papan tulis yang masih bergantian antara kelas satu dengan kelas lainnya.
Cat di dindingnya sudah pudar, dan tidak jeals lagi apa warna aslinya. Kemudian
bel sekolah yang masih berupa lonceng besi berukuran sedang yang dibunyikan
bergantian sesuai jadwal piketnya. Pintu kelas maupun ruang penyimpanan sarana
sekolah dengan kunci seadanya bahkan tidak memiliki kunci. Tidak heran apabila
sarana sekolah ada yang hilang atau berkurang jumlahnya.
Siswa – siswi disana tidak memiliki buku
panduan khusus untuk belajar, dan memang disana sangat terbatas untuk itu.
Siswa – siswi nya pun memakai seragam seadanya. Bahkan ketika kami yang
mengajar sementara saat Ibu guru pergi ke kota karena suatu urusan ada yang
memakai baju rumah dan sandal/nyeker saat sekolah. Namun, ketika Ibu guru
datang kembali, mereka tidak diizinkan untuk sekolah. Sungguh memprihatinkan
>.<. Dan kami, tim PPB-10 merasa sangat senang ketika berkesempatan
membantu disana. Dan siswa – siswi disana pun senang dengan kedatangan kami,
mereka semangat lagi untuk bersekolah, belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Tidak kenal waktu, malam hari pun adik – adik main ke pondokan kami untuk sekedar bermain, bahkan belajar calistung, bernyanyi dengan kami ditemani dengan rembulan dan milyaran bintang di langit. Aaaa....kangen kalian :* kangen saat – saat itu...selalu kangen dengan semua kegiatan di Yenbeser :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar