Sabtu, 15 Agustus 2015

Tuhan Punya Cara - Nya Sendiri

Siang hari di hari Senin

Aku melangkah gontai menuju tempat yang biasa aku datangi ketika Tuhan memanggil. Teriknya matahari siang itu membuat langkah ku terasa semakin berat. Hanya Istighfar yang terus aku ucap dalam hati agar niat ku tidak luntur untuk menghadap - Nya. Hari itu terasa berat bagiku. Aku saat itu - adalah aku yang terjatuh - sejatuh jatuhnya aku.

Sesampainya aku di tempat itu, ku ambil air yang suci mensucikan dan perlahan kubasuhkan ke anggota badanku. Mulai kurasakan kesejukkan bersama dengan mengalirnya air itu. "Alhamdulillah", ucapku. Lalu, mukena berwarna orange pun ku kenakan, dan aku siap untuk menghadap Mu. 

Sebelum menghadap – Mu, aku bertemu dengan Kak Auria, seorang kakak angkatan di kampusku, namun hubungan kami hanya sebatas mengenal nama dan wajah. Walau begitu, saat bertemu, kami layaknya kawan lama yang tidak bertemu lama. Kami saling berjabat tangan dan cium pipi kiri – kanan, serta dengan antusias bertanya kabar satu sama lain.

Tidak beberapa lama iqamat terdengar, kami hentikan sebentar perbincangan kami, dan bersama – sama menghadap – Nya. Gerakan demi gerakan ku lakukan dengan sepenuh hati. Tak terasa, kedamaian pun menyapa hati. resah dan gelisah perlahan memudar, namun tersisa sedikit yang masih terselip. Hanya Doa yang kusematkan setelah menghadap – Nya, semoga diberikan semangat baru dan kemantapan kaki untuk melangkah di jalur ini, di jalur yang aku pilih sendiri ini.

Sampai akhirnya, setelah melipat kembali mukena orange, perbincangan yang sempat terputus kami lanjutkan. Kak Auria saat itu banyak bercerita dan bertanya kepadaku. Aku pun hanya menjawab sekedarnya, dan Kak Auria tidak berkomentar soal itu. Mungkin -  Kak Auria telah membaca mimik wajah ku yang memang sedang tidak baik.

Kudengarkan dengan baik cerita demi cerita tentang perjalanan Kak Auria. Kak Auria bercerita tentang perjalanan hidup dia yang ternyata panjang dan tidak mudah. Salah satu cerita Kak Auria yang sedang kusimak, sedang ku alami saat itu. Dimana ujung jalan masih belum terlihat, dan aku yang sudah tak sanggup lagi mencari titik terangnya.

Kusimak terus jalan ceritanya, dan bagaimana Kak Auria melewati itu semua. Ternyata, semangat yang terus dijaga adalah kuncinya. Untuk hal yang sama yang sedang ku alami saat ini Kak Auria ternyata telah lebih lama memulai, sedangkan aku?Baru anak kemarin sore untuk hal yang sama, tapi sudah mengeluh.  

Setelah mendengar semua cerita Kak Auria itu – aku bersiap merapikan barang – barang ku dan kembali pulang. Sepanjang perjalanan pulang, aku merefleksikan cerita Kak Auria ke kehidupan ku. Dan memang, aku masih belum ada apa – apa nya. Usahaku belum ada apa – apanya. Semangat ku dan kegigihan ku masih belum ada apa – apanya. Semua belum ada apa – apanya.

Aku bertekad untuk memperbaiki itu semua dan dari situlah semangat ku mulai membara lagi. Cerita Kak Auria memberikan semangat baru dalam diri ku, dan ternyata aku sadar, melalui cerita Kak Auria, Tuhan menjawab Do’a ku siang itu.

Terimakasih Tuhan...


Tuhan berkomunikasi dengan hamba - Nya dengan berbagai cara, dan semoga aku akan selalu ingat untuk kembali disaat kondisi terbaik ku atau terburuk ku. Hanya itu,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar