Siang hari di hari Senin
Aku melangkah gontai menuju tempat yang
biasa aku datangi ketika Tuhan memanggil. Teriknya matahari siang itu membuat
langkah ku terasa semakin berat. Hanya Istighfar yang terus aku ucap dalam hati
agar niat ku tidak luntur untuk menghadap - Nya. Hari itu terasa berat bagiku.
Aku saat itu - adalah aku yang terjatuh - sejatuh jatuhnya aku.
Sesampainya aku di tempat itu, ku ambil
air yang suci mensucikan dan perlahan kubasuhkan ke anggota badanku. Mulai
kurasakan kesejukkan bersama dengan mengalirnya air itu.
"Alhamdulillah", ucapku. Lalu, mukena berwarna orange pun ku kenakan,
dan aku siap untuk menghadap Mu.
Sebelum menghadap – Mu, aku bertemu dengan
Kak Auria, seorang kakak angkatan di kampusku, namun hubungan kami hanya
sebatas mengenal nama dan wajah. Walau begitu, saat bertemu, kami layaknya kawan
lama yang tidak bertemu lama. Kami saling berjabat tangan dan cium pipi kiri –
kanan, serta dengan antusias bertanya kabar satu sama lain.
Tidak beberapa lama iqamat terdengar, kami
hentikan sebentar perbincangan kami, dan bersama – sama menghadap – Nya.
Gerakan demi gerakan ku lakukan dengan sepenuh hati. Tak terasa, kedamaian pun
menyapa hati. resah dan gelisah perlahan memudar, namun tersisa sedikit yang
masih terselip. Hanya Doa yang kusematkan setelah menghadap – Nya, semoga
diberikan semangat baru dan kemantapan kaki untuk melangkah di jalur ini, di
jalur yang aku pilih sendiri ini.
Sampai akhirnya, setelah melipat kembali
mukena orange, perbincangan yang sempat terputus kami lanjutkan. Kak Auria saat
itu banyak bercerita dan bertanya kepadaku. Aku pun hanya menjawab sekedarnya,
dan Kak Auria tidak berkomentar soal itu. Mungkin - Kak Auria telah membaca mimik wajah ku yang
memang sedang tidak baik.
Kudengarkan dengan baik cerita demi cerita
tentang perjalanan Kak Auria. Kak Auria bercerita tentang perjalanan hidup dia
yang ternyata panjang dan tidak mudah. Salah satu cerita Kak Auria yang sedang
kusimak, sedang ku alami saat itu. Dimana ujung jalan masih belum terlihat, dan
aku yang sudah tak sanggup lagi mencari titik terangnya.
Kusimak terus jalan ceritanya, dan
bagaimana Kak Auria melewati itu semua. Ternyata, semangat yang terus dijaga
adalah kuncinya. Untuk hal yang sama yang sedang ku alami saat ini Kak Auria
ternyata telah lebih lama memulai, sedangkan aku?Baru anak kemarin sore untuk
hal yang sama, tapi sudah mengeluh.
Setelah mendengar semua cerita Kak Auria
itu – aku bersiap merapikan barang – barang ku dan kembali pulang. Sepanjang perjalanan
pulang, aku merefleksikan cerita Kak Auria ke kehidupan ku. Dan memang, aku
masih belum ada apa – apa nya. Usahaku belum ada apa – apanya. Semangat ku dan
kegigihan ku masih belum ada apa – apanya. Semua belum ada apa – apanya.
Aku bertekad untuk memperbaiki itu semua
dan dari situlah semangat ku mulai membara lagi. Cerita Kak Auria memberikan
semangat baru dalam diri ku, dan ternyata aku sadar, melalui cerita Kak Auria,
Tuhan menjawab Do’a ku siang itu.
Terimakasih Tuhan...
Tuhan berkomunikasi dengan hamba - Nya
dengan berbagai cara, dan semoga aku akan selalu ingat untuk kembali disaat
kondisi terbaik ku atau terburuk ku. Hanya itu,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar